Merenungkan Kembali Makna Kemuliaan dan Akhlak Nabi Muhammad ﷺ
Sejujurnya hati ini berat untuk menulis tentang ini. sedih, gemetar dan besarnya rasa rindu ini yang tak bertepi. Jangankan mengenang kisahnya, menulis namanya saja, jari-jari ini terasa kaku, dan air mata pun tak mau berhenti jatuh hingga tergenang diatas meja. Namun, saya ingin tetap mencoba memberanikan diri, karena sudah terlalu lama polemik ini bergulir dan selalu menjelma di layar beranda smartphone saya. Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi untuk diri saya, karena begitu besarnya rindu dan cinta ini kepada sesosok figur suri tauladan bagi kita semua.
Ada kemuliaan yang diwariskan melalui darah, tetapi ada pula kemuliaan yang seharusnya diperjuangkan melalui akhlak. Nasab dapat diberikan kepada seseorang sejak ia dilahirkan ke bumi, namun akhlak tidak pernah diwariskan begitu saja. Ia harus dipelajari, diteladani, dilatih, dan selalu dijaga sepanjang kehidupan. Mungkin di situlah kita perlu berhenti sejenak untuk merenungkan lagi, apa sebenarnya makna dari sebuah nasab yang mulia.
Belakangan ini, pembicaraan tentang nasab dan keturunan Nabi Muhammad ﷺ kembali sering muncul di tengah masyarakat. Ada yang berbicara tentang kemuliaan Ahlul Bait, ada yang mempertanyakan klaim nasab tertentu, dan ada pula yang memperdebatkan kedudukan sosial para Habaib. Perbincangan semacam ini memang tidak selalu mudah, karena di dalamnya terdapat kecintaan, keyakinan, penghormatan, sejarah, tradisi, sekaligus persoalan yang terkadang sangat-sangat sensitif. Namun, mungkin ada satu hal yang lebih mendasar daripada semua perdebatan itu: Apa yang seharusnya dilakukan seseorang, ketika ia membawa sebuah nasab yang begitu mulia?
Pertanyaan itu sangatlah penting, karena nasab bukan sekadar nama yang mengikuti seseorang. Nasab adalah sebuah hubungan sejarah dan keluarga yang membawa identitas tertentu. Dalam tradisi Islam, nasab Rasulullah ﷺ dan keluarga beliau memiliki tempat yang begitu sangat istimewa. Kecintaan kepada keluarga Nabi, merupakan bagian yang memiliki akar kuat dalam tradisi umat Islam. Karena itu, penghormatan terhadap keturunan beliau, tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang remeh temeh. Namun, penghormatan terhadap nasab juga tidak seharusnya membuat kita lupa kepada sesuatu yang jauh lebih mendasar: Rasulullah ﷺ sendiri tidak hanya dikenang karena siapa leluhurnya, tetapi, terutama karena siapa dirinya dan bagaimana akhlaknya.
Allah menggambarkan beliau dengan sebuah ayat yang begitu singkat, tetapi, kedalaman maknanya hampir tidak bertepi:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Coba kita perhatikan, bagaimana Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ mulia hanya karena nasabnya. Allah justru menunjuk kepada khuluq, akhlak. Seolah-olah ada pesan yang sangat halus di sana: kemuliaan seseorang bukan hanya sesuatu yang melekat pada asal-usulnya, tetapi sesuatu yang terpancar melalui cara ia hidup dan memperlakukan kehidupan.
Rasulullah ﷺ memang berasal dari nasab yang mulia. Beliau berasal dari keturunan Quraisy, dari Bani Hasyim, dan memiliki garis keturunan yang sangat terhormat. Tetapi, kemuliaan itu tidak pernah membuat beliau menjadi manusia yang merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya. Justru, semakin besar kedudukan beliau, semakin tampak kerendahan hati, kasih sayang, kesabaran, kepercayaan, dan kelembutan yang beliau tunjukkan.
Beliau selalu duduk bersama orang-orang sederhana. Beliau mendengarkan mereka yang datang kepadanya. Beliau memperhatikan orang-orang miskin, anak yatim, orang lemah, bahkan mereka yang berbeda dengan dirinya. Ketika memiliki kekuasaan, beliau tidak menjadikan kekuasaan itu sebagai alasan untuk berlaku sewenang-wenang. Ketika disakiti, beliau tidak selalu membalas dengan kebencian. Dan ketika memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya berada di atas orang lain, beliau justru menunjukkan ketundukan kepada Allah.
Maka, jika seseorang hari ini mengatakan bahwa dirinya memiliki hubungan nasab dengan Rasulullah ﷺ, sesungguhnya yang sedang dibawanya bukan hanya sebuah kehormatan. Ada pula amanah yang selalu mengikuti kehormatan itu.
Bukan berarti seorang keturunan Nabi harus menjadi manusia tanpa kesalahan. Tentu tidak. Mereka tetap manusia biasa. Mereka bisa keliru, marah, kecewa, lelah, bahkan melakukan kesalahan. Nasab itu tidak menghapus sifat manusiawi seseorang. Tetapi, ketika nasab tersebut menjadi identitas yang diperkenalkan kepada masyarakat, secara moral, ia membawa konsekuensi tertentu. Masyarakat pun akan melihatnya bukan hanya sebagai individunya saja, tetapi juga sebagai seseorang yang memiliki hubungan dengan keluarga manusia yang paling mereka cintai.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Ketika seseorang membawa nama yang terhubung dengan baginda Rasulullah ﷺ, setiap sikapnya berpotensi memengaruhi cara orang lain memandang nama yang dibawanya. Sebuah kelembutan dapat membuat orang semakin mencintai nilai-nilai yang diajarkan Nabi. Sebuah keteladanan dapat membuat orang semakin ingin mengenal beliau. Tetapi sebaliknya, perilaku yang kasar, merendahkan, sombong, atau tidak mencerminkan adab yang baik, dapat menimbulkan kesan yang tidak semestinya terhadap sesuatu yang sebenarnya jauh lebih mulia daripada dirinya.
Tentu kita harus berhati-hati di sini. Kesalahan seseorang, tidak boleh digunakan untuk menghakimi seluruh keturunan Nabi. Jika ada seorang habib melakukan kesalahan, kesalahan itu adalah kesalahan individu. Ia tidak boleh menjadi alasan untuk mencela seluruh habaib atau seluruh keturunan Rasulullah ﷺ. Sebagaimana seseorang yang memiliki nasab mulia, tidak seharusnya menggunakan nasabnya untuk mengklaim bahwa seluruh tindakannya pasti benar.
Nasab bukanlah jaminan kesempurnaan. Dan akhlak bukan monopoli sebuah garis keturunan. Seseorang yang tidak memiliki nasab kepada Rasulullah ﷺ dapat mencintai beliau dengan sangat dalam, mempelajari sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan menghabiskan hidupnya untuk menghadirkan nilai-nilai yang selalu beliau ajarkan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki nasab mulia, tetap memiliki kewajiban untuk memperjuangkan akhlaknya sendiri.
Barangkali, di sinilah kita perlu membedakan antara kemuliaan yang diwariskan dan kemuliaan yang diusahakan.
Nasab adalah sesuatu yang diwariskan. Kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita akan dilahirkan. Tetapi akhlak adalah sesuatu yang kita bangun melalui pilihan-pilihan kita setiap hari. Kita memilih apakah akan jujur atau berdusta, merendahkan atau menghormati, memaafkan atau membalas, mengendalikan amarah atau melampiaskannya.
Karena itu, nasab dapat menjadi kehormatan, tetapi akhlaklah yang menunjukkan bagaimana kehormatan itu diperlakukan. Mungkin inilah yang dimaksud ketika kita mengatakan bahwa nasab seharusnya menjadi amanah.
Jika seseorang mengetahui bahwa dirinya memiliki hubungan dengan keluarga Nabi, semestinya pengetahuan itu tidak membuatnya berdiri lebih tinggi di hadapan manusia. Justru, ia dapat menjadi alasan untuk bertanya kepada dirinya sendiri:
Sudahkah perilakuku membuat orang lain mengingat kelembutan Rasulullah ﷺ? Sudahkah caraku berbicara mencerminkan kasih sayang yang beliau ajarkan? Sudahkah caraku memperlakukan orang yang lebih lemah mengingatkan orang lain kepada akhlaknya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin jauh lebih penting daripada sekadar bertanya, “Siapa leluhurku?” Sebab. mengetahui leluhur adalah bagian dari sejarah. Tetapi meneruskan kebaikan leluhur adalah bagian dari tanggung jawab.
Ada sebuah hal yang terkadang luput dari perhatian kita. Ketika seseorang menggunakan nasab sebagai identitas sosial, masyarakat akan melihat bukan hanya dirinya, tetapi juga simbol yang berada di belakang dirinya. Karena itu, semakin tinggi sebuah identitas ditempatkan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya.
Dalam konteks ini, penghormatan kepada keturunan Nabi dan tuntutan agar mereka menjaga akhlak sebenarnya bukan dua hal yang bertentangan. Justru, keduanya dapat berjalan bersama. Kita menghormati nasabnya, sekaligus berharap agar kehormatan tersebut tercermin dalam akhlaknya.
Dan harapan itu bukan penghinaan. Sebaliknya, mungkin itu adalah bentuk penghormatan yang paling tulus. Sebab, apa gunanya seseorang membawa nama yang begitu mulia jika nama tersebut tidak menjadi dorongan untuk berbuat lebih baik Apa gunanya seseorang dihormati karena garis keturunannya jika penghormatan itu justru membuatnya lupa bahwa dirinya tetap seorang hamba?
Rasulullah ﷺ sendiri, adalah teladan tentang bagaimana kemuliaan tidak harus melahirkan kesombongan. Beliau adalah manusia yang paling mulia, tetapi beliau juga adalah ‘abd, seorang hamba Allah. Bahkan dalam Simṭ al-Durar, Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi menyebut beliau sebagai:
أَجَلَّ عَبِيْدِهِ
“Hamba-Nya yang paling agung.”
Ini menarik. Ada sesuatu yang indah dalam penyebutan itu. Di tengah seluruh kemuliaan Rasulullah ﷺ, identitas sebagai hamba tetap berada di sana. Mungkin karena itu, semakin seseorang dekat dengan kemuliaan, seharusnya semakin ia mengenal kerendahan hati. Kemuliaan yang sejati tidak membuat seseorang membutuhkan orang lain untuk merasa kecil. Ia justru membuat seseorang mampu membuat orang lain merasa dihargai.
Dan di sinilah persoalan nasab akhirnya kembali kepada kita semua. Karena sesungguhnya, kita pun memiliki “nasab” dalam pengertian yang lebih luas: kita membawa nama keluarga, pendidikan, gelar, jabatan, organisasi, guru, komunitas, dan bahkan identitas agama. Kita sering bangga dengan sesuatu yang melekat pada diri kita, seolah-olah sesuatu itu menjadikan kita lebih tinggi daripada orang lain. Tetapi, pertanyaannya tetap sama: apakah sesuatu yang kita banggakan itu telah menjadi amanah?
Jika ilmu membuat kita sombong, mungkin ada sesuatu yang belum selesai dalam perjalanan ilmu kita. Jika agama membuat kita mudah merendahkan orang lain, mungkin ada sesuatu yang perlu kita renungkan kembali. Jika nasab membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia lain, mungkin ia sedang kehilangan makna terdalam dari kemuliaan yang diwarisinya.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya dikenang karena dari siapa ia berasal, tetapi juga karena apa yang ia tinggalkan melalui dirinya sendiri. Nasab dapat membawa kita kepada sebuah nama besar. Tetapi, akhlak yang menentukan apakah nama itu menjadi cahaya atau sekadar kebanggaan.
Mungkin karena itu, saya lebih suka memandang nasab bukan sebagai mahkota, melainkan sebagai amanah. Mahkota membuat seseorang merasa berada di atas. Amanah justru membuat seseorang merasa harus menjaga sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Dan jika nasab itu terhubung dengan Rasulullah ﷺ, amanah tersebut tentu menjadi semakin indah sekaligus semakin berat: bukan untuk menjadi manusia yang sempurna, tetapi untuk terus berusaha menghadirkan sesuatu dari akhlak beliau dalam kehidupan.
Sebab kita mungkin tidak mampu menjadi seperti Rasulullah ﷺ. Kita terlalu jauh dari kesempurnaan beliau. Tetapi kita selalu dapat belajar dari kelembutannya, kesabarannya, kejujurannya, kasih sayangnya, keberaniannya, dan kerendahan hatinya.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling layak kita ajukan bukanlah “Seberapa mulia nasab seseorang?”, tetapi: “Apa yang dilakukan seseorang dengan kemuliaan yang ia miliki?” Karena nasab adalah sesuatu yang diwariskan. Tetapi akhlak adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Dan barangkali, di situlah makna terdalam dari sebuah nasab yang mulia: bukan sekadar menjadi alasan agar seseorang dihormati, melainkan menjadi dorongan agar dirinya semakin layak untuk dihormati.
Nasab membawa nama. Akhlak menjaga nama itu. Dan keteladanan membuat nama itu tetap hidup dalam kebaikan.
Cawang, Robi’ul Awwal 1448 H
Bangiwans Corner

