Ada sebuah ungkapan Sunda, yang akhir-akhir ini telah membuat hati saya tersentuh dan membuat saya merenung: “Caina Hérang, Laukna Beunang.” Secara sederhana, ungkapan ini berarti air tetap jernih, tetapi ikan berhasil didapatkan. Saya mendengar ungkapan ini dari seorang teman, di sela-sela obrolan saya dengan beliau. Seorang guru yang saya kenal sebagai pribadi yang tenang dan bijaksana. Di antara kami yang terkadang berbeda pandangan tentang kehidupan, terutama dalam persoalan tata cara beribadah yang berada dalam wilayah furu‘iyyah, ia hampir selalu menjadi penyeimbang. Ia tidak selalu tergesa-gesa menyalahkan, tetapi juga tidak sekadar memilih diam. Ia berbicara seperlunya, dengan cara sederhana yang tidak menyinggung perasaan, tetapi entah mengapa selalu meninggalkan sesuatu kesan yang dalam di hati.
Dari beliau saya perlahan-lahan memahami bahwa, persoalan dalam sebuah perbedaan kerap kali bukan terletak pada perbedaannya, melainkan pada cara kita memperlakukannya. Dalam persoalan furu‘iyyah, perbedaan pandangan merupakan bagian dari perjalanan panjang tradisi keilmuan Islam. Para ulama dapat memiliki pendapat yang berbeda dalam sejumlah persoalan cabang, tetapi perbedaan tersebut tidak seharusnya membuat kita kehilangan adab terhadap sesama. Kita boleh meyakini suatu pendapat, menjalankannya, dan menjelaskan alasan yang kita pahami. Tetapi, meyakini pendapat sendiri tidak berarti kita memperoleh hak untuk merendahkan orang yang memilih pendapat berbeda.
Di sinilah saya merasa ungkapan “Caina Hérang, Laukna Beunang” menjadi sangat indah dan berkesan. Kita tetap dapat memperjuangkan apa yang kita yakini, tetapi tidak harus membuat keadaan menjadi keruh. Kita tetap dapat berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak harus menjadikan orang lain sebagai musuh. Kita dapat berbeda dalam cara beribadah, tetapi tetap dapat saling menghormati dan menghargai. Sebab berbeda dalam cara beribadah tidak harus membuat kita berbeda dalam cara memperlakukan manusia.
Sering kali, yang membuat perdebatan menjadi panjang bukan lagi persoalan yang sedang dibicarakan, melainkan ego yang diam-diam ikut masuk ke dalamnya. Kita tidak lagi sekadar mempertahankan pendapat, tetapi mulai mempertahankan harga diri. Kita ingin membuktikan bahwa kita lebih tahu, lebih benar, lebih pintar atau lebih layak didengar. Ketika itu terjadi, air pun mulai keruh. Kita mungkin berhasil membuat orang lain diam, tetapi belum tentu berhasil membuatnya memahami. Kita mungkin memenangkan perdebatan, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: hubungan baik.
Teman saya mengajarkan sesuatu hal yang berbeda. Ia tidak berusaha menjadi orang yang paling benar di antara kami. Ia justru berusaha menjaga, agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Jika ada yang menurutnya perlu diluruskan, ia meluruskannya. Jika ada yang perlu dijelaskan, ia menjelaskannya dengan seksama. Tetapi ia melakukannya dengan cara yang membuat orang lain tetap memiliki ruang untuk berpikir dan menerima.
Mungkin, di situlah perbedaan antara ilmu dan kebijaksanaan. Orang yang berilmu mungkin mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi orang yang bijaksana mengetahui bagaimana mengatakannya tanpa melukai perasaan. Ia memahami bahwa kebenaran tidak menjadi lebih benar hanya karena disampaikan dengan suara yang lebih keras dan lantang.
Dalam kehidupan, kita tidak mungkin selalu sepakat. Kita akan selalu bertemu dengan orang yang berbeda pandangan, berbeda guru, berbeda pengalaman, dan berbeda cara memahami sesuatu. Bahkan dalam persoalan keagamaan yang bersifat furu‘iyyah, perbedaan adalah sesuatu yang telah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam. Yang mungkin perlu kita pelajari, bukan bagaimana menghilangkan semua perbedaan, tetapi, bagaimana tetap menjadi saudara ketika perbedaan itu ada.
Barangkali, inilah makna yang paling dalam dari “Caina Hérang, Laukna Beunang.” Kita tidak harus kehilangan prinsip agar dapat menjaga persaudaraan. Kita tidak harus mengalah dalam keyakinan hanya untuk menciptakan kedamaian. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk memperjuangkan apa yang kita yakini tanpa merendahkan mereka yang berbeda.
Sebab pada akhirnya, tidak semua kemenangan layak dirayakan apabila untuk mendapatkannya kita kehilangan terlalu banyak hal yang lebih berharga.
Kita mungkin mendapatkan “ikan”, tetapi jangan sampai airnya menjadi keruh. Jangan sampai sebuah perbedaan tentang cara beribadah membuat kita lupa kepada adab dalam memperlakukan sesama. Jangan sampai keinginan untuk membuktikan bahwa kita benar membuat kita lupa bahwa orang di hadapan kita juga seorang manusia yang sedang belajar, mencari, dan menjalani keyakinannya berdasarkan apa yang ia pahami.
Mungkin menjadi bijak di tengah perbedaan bukan berarti membuat semua orang sepakat dengan kita. Barangkali, kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan untuk berkata dalam hati:
“Aku akan tetap menjalankan apa yang kuyakini, tetapi aku tidak harus membenci orang yang memilih jalan yang berbeda.”
Caina Hérang, Laukna Beunang.
Air tetap jernih, ikan tetap didapatkan. Dan setelah perbedaan itu selesai dibicarakan, semoga kita masih dapat duduk bersama sebagai saudara dan sahabat. Karena mungkin yang paling penting bukanlah siapa yang menang dalam perdebatan, tetapi, apakah setelah perdebatan itu selesai, hati kita masih tetap jernih dan tenang.
Cawang, Agustus 2026
Bangiwans Corner

