AD-DUHA: KETIKA CAHAYA DATANG SETELAH SUNYI

Disclaimer:

Tulisan ini hanyalah sebuah untaian pemahaman sederhana dari seorang yang faqir ilmu, yang masih belajar membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayat Allah. Ia tidak dimaksudkan sebagai tafsir baru, apalagi untuk menggantikan keluasan ilmu dan penjelasan para ulama. Apa yang dilakukan di sini hanyalah sebuah ikhtiar kecil untuk membaca Surah Ad-Duha dengan lebih perlahan, mencoba memahami kandungannya berdasarkan penjelasan para mufasir, kemudian menyelami pesan-pesannya dalam kehidupan manusia. Karena itu, apa yang merupakan penjelasan tafsir akan berusaha kita sandarkan kepada sumber-sumber keislaman yang dapat dipertanggungjawabkan, sementara bagian yang berupa renungan adalah keterbatasan seorang pembelajar dalam mencoba memahami apa yang sedang disampaikan oleh ayat-ayat Allah. Jika di dalamnya terdapat kekurangan, maka kekurangan itu adalah milik penulis; sedangkan kebenaran sepenuhnya milik Allah. Mungkin kita sudah berkali-kali membaca Surah Ad-Duha, tetapi belum tentu setiap kali membacanya kita benar-benar mendengarkan apa yang sedang disampaikannya. Maka kali ini, mari kita membacanya sedikit lebih perlahan, bukan sebagai orang yang merasa telah memahami seluruh maknanya, melainkan sebagai manusia yang juga pernah berada dalam sunyi, pernah menunggu, pernah kehilangan arah, dan pernah membutuhkan penghiburan. Barangkali ada cahaya yang selama ini begitu dekat dengan kita, tetapi belum sempat benar-benar kita sadari.

Ada kalanya sebuah kejadian membuat hati kita terusik. Kita kerap kali melihat sesuatu yang menurut keyakinan dan nilai yang kita pegang seharusnya diperlakukan dengan hormat, namun justru digunakan dengan cara yang membuat banyak orang merasa terluka. Peristiwa yang belakangan ini ramai diperbincangkan, ketika Surah Ad-Duha muncul dalam sebuah aktivitas yang dikaitkan dengan challenge minuman beralkohol, tentu ini dapat dilihat dari berbagai sisi. Kita dapat membicarakannya sebagai sebuah persoalan etika, penghormatan terhadap agama, tanggung jawab sosial, bahkan aspek hukum apabila memang terdapat unsur pelanggaran yang dapat dibuktikan. Namun, di tengah kegaduhan seperti itu, mungkin ada hikmah yang lebih penting daripada sekadar memperpanjang kemarahan, yaitu kembali menyelami apa sebenarnya yang terkandung dalam Surah Ad-Duha.

Sebab kadang kala sebuah peristiwa yang membuat kita marah justru dapat menjadi pintu masuk untuk kembali mendengarkan sesuatu yang selama ini sangat akrab di telinga kita. Kita mungkin mengenal nama surahnya, hafal seluruh ayatnya, dan bahkan sering melantunkannya, namun belum tentu pernah benar-benar berhenti sejenak untuk bertanya apa yang sedang Allah sampaikan melalui sebelas ayat yang begitu singkat itu. Surah Ad-Duha bukan sekadar rangkaian ayat tentang waktu pagi. Di dalamnya terdapat sebuah kisah tentang kesunyian, penantian, penghiburan, masa lalu, masa depan, nikmat, perlindungan, petunjuk, kecukupan, dan akhirnya sebuah tuntunan tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan sesamanya setelah menerima rahmat dari Allah.

Surah ini dimulai dengan firman Allah:

وَالضُّحَىٰ ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ

“Demi waktu dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi.”

Jika kita perhatikan, ayat pertama dari surah ini sangat menarik. Dua keadaan diletakkan berdampingan: waktu dhuha dan waktu malam. Cahaya dan kesunyian. Terang dan gelap. Seakan-akan sejak awal pikiran kita sedang dibawa memahami bahwa kehidupan tidak hanya memiliki satu wajah. Ada masa, ketika semuanya terasa terang dan mudah untuk dipahami, tetapi ada pula masa ketika kehidupan menjadi sunyi, ketika jawaban belum datang, ketika jalan di depan belum terlihat, dan ketika seseorang hanya mampu bertahan sambil menunggu sesuatu yang belum ia ketahui.

Dalam konteks turunnya surah ini, para mufasir menjelaskan bahwa, wahyu sempat mengalami masa terhenti, dan keadaan tersebut kemudian dijadikan bahan ejekan oleh orang-orang yang memusuhi Rasulullah ﷺ. Seolah-olah terhentinya wahyu merupakan tanda bahwa Allah telah meninggalkan Nabi. Maka datanglah jawaban Allah yang sangat singkat, tetapi begitu dalam:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”

Ayat ini pertama-tama tentu berbicara kepada Rasulullah ﷺ dalam konteks kenabian beliau. Karena itu kita tidak boleh melepaskan ayat dari konteksnya dan kemudian menganggapnya sebagai kalimat motivasi biasa. Ia adalah firman Allah kepada Rasul-Nya pada sebuah masa ketika wahyu sempat terhenti dan ketika orang-orang di sekitarnya mencoba menafsirkan kesunyian itu sebagai tanda kebencian dan penolakan.

Namun dari konteks tersebut, kita dapat menemukan sebuah pelajaran yang sangat manusiawi. Tidak semua kesunyian berarti ditinggalkan. Tidak semua penundaan berarti penolakan. Tidak semua keadaan yang belum kita pahami berarti Allah sedang menjauh dari kita. Ada perbedaan antara tidak melihat cahaya dan tidak adanya cahaya, sebagaimana ada perbedaan antara belum menerima jawaban dan tidak adanya jawaban. Manusia sering kali menilai kasih sayang Tuhan berdasarkan apa yang sedang terlihat di hadapannya, padahal apa yang terlihat oleh manusia hanyalah bagian yang sangat kecil dari keseluruhan perjalanan hidupnya.

Karena itu, setelah menegaskan bahwa Allah tidak meninggalkan Nabi-Nya, Surah Ad-Duha mengarahkan pandangan kepada masa depan:

وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”

Seolah-olah Nabi ﷺ diajak untuk tidak berhenti pada apa yang sedang terjadi. Ada sesuatu yang belum terlihat. Ada masa depan yang berada dalam pengetahuan Allah. Kehidupan tidak selesai pada satu keadaan yang sedang kita jalani. Manusia sering kali menilai seluruh kisah hidupnya hanya dari halaman yang sedang dibacanya. Ketika halaman itu penuh kesedihan, ia merasa seluruh cerita telah menjadi buruk; ketika satu pintu tertutup, ia mengira semua jalan telah berakhir. Padahal mungkin kita hanya sedang berada di satu bagian dari perjalanan yang jauh lebih panjang.

Kemudian Allah memberikan janji:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan kepadamu sehingga engkau menjadi puas.”

Ada sebuah harapan dalam ayat ini, tetapi bukan harapan yang kosong. Ia adalah janji Allah kepada Rasul-Nya. Dan setelah memberikan pandangan ke masa depan, Allah justru mengajak Nabi ﷺ menengok ke belakang, kepada perjalanan hidup yang telah dilalui:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan belum mengetahui jalan, lalu Dia memberikan petunjuk.”

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ

“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”

Ini menarik, ada sesuatu yang sangat indah dalam cara Allah memberikan penghiburan. Allah tidak hanya mengatakan kepada Nabi ﷺ agar bersabar menghadapi keadaan yang sedang terjadi. Allah mengajaknya mengingat perjalanan yang telah dilaluinya. Engkau pernah berada dalam keadaan yatim, tetapi Aku melindungimu. Engkau pernah berada dalam keadaan membutuhkan petunjuk, tetapi Aku memberimu petunjuk. Engkau pernah berada dalam keadaan kekurangan, tetapi Aku memberikan kecukupan.

Masa lalu kemudian menjadi pengingat, bahwa pertolongan Allah pernah hadir sebelumnya. Mungkin di sinilah Surah Ad-Duha juga mengajarkan kita cara memandang kehidupan. Kita kerap kali begitu sibuk menghitung apa yang belum diberikan, sehingga lupa menghitung apa yang telah diberikan. Kita mengingat pintu yang tertutup, tetapi lupa kepada pintu-pintu yang pernah dibukakan. Kita mengingat kehilangan yang kita alami, tetapi lupa kepada begitu banyak hal yang masih berada di tangan kita. Kita bertanya mengapa sebuah doa belum terjawab, tetapi jarang berhenti untuk melihat berapa banyak doa yang telah dijawab Allah dalam bentuk yang bahkan tidak pernah kita sadari.

Dan semakin kita berusaha melihat kehidupan dengan jujur, semakin kita menyadari betapa sedikit sebenarnya yang sepenuhnya berasal dari kekuatan kita sendiri. Kita memang berusaha, bekerja, belajar, dan berjuang. Tetapi kemampuan untuk berusaha pun merupakan pemberian. Kesempatan untuk belajar merupakan pemberian. Kesehatan, keluarga, pertemuan dengan orang-orang baik, jalan yang terbuka, bahkan kemampuan untuk bangkit setelah jatuh, semuanya memiliki begitu banyak sebab yang tidak sepenuhnya kita ciptakan sendiri.

Di sinilah mungkin kesombongan manusia menemukan batasnya. Kita mudah berkata bahwa keberhasilan adalah hasil kerja keras kita sendiri, dan tentu saja usaha memiliki tempat yang penting. Tetapi semakin kita melihat kehidupan secara utuh, semakin kita memahami bahwa keberhasilan tidak pernah berdiri sendirian. Ada begitu banyak pertolongan yang bekerja dalam diam, ada begitu banyak nikmat yang kita terima tanpa pernah kita minta, dan ada begitu banyak penjagaan Allah yang bahkan tidak pernah kita sadari.

Karena itu, setelah mengingat berbagai nikmat tersebut, Allah tidak membiarkan Nabi ﷺ berhenti pada rasa terhibur. Allah memberikan arah tentang bagaimana nikmat itu seharusnya dapat membentuk kehidupan:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Dan terhadap orang yang meminta, janganlah engkau menghardik.”

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”

Di sinilah keindahan Surah Ad-Duha terasa semakin lengkap. Allah menghibur, mengingatkan, menunjukkan nikmat, lalu mengajarkan sebuah tanggung jawab. Seolah-olah ada hubungan yang sangat erat antara rahmat yang kita terima dengan rahmat yang semestinya kita berikan kepada orang lain. Seseorang yang pernah merasakan perlindungan, seharusnya memahami arti melindungi. Seseorang yang pernah mengalami kekurangan, semestinya lebih mampu memahami perasaan orang yang meminta. Seseorang yang pernah kehilangan arah, seharusnya tidak mudah merendahkan mereka yang masih mencari jalan.

Dan mungkin, inilah bagian yang paling menampar kesombongan kita sebagai manusia. Semakin banyak nikmat yang kita sadari, semakin kecil seharusnya ruang untuk membanggakan diri. Sebab nikmat bukan hanya alasan untuk merasa memiliki, tetapi juga alasan untuk merasa bertanggung jawab.

Maka ketika kita kembali melihat peristiwa yang membuat banyak orang merasa tersinggung, karena ayat-ayat Al-Qur’an diperlakukan tanpa penghormatan, mungkin kita tidak harus berhenti pada kemarahan. Kita dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana sebenarnya kita telah menghormati Al-Qur’an?

Apakah penghormatan kepada Al-Qur’an hanya berhenti pada menjaga mushaf di tempat yang tinggi, mencium sampulnya, atau membacanya dalam berbagai kesempatan? Tentu semua itu memiliki nilai dalam tradisi penghormatan kita. Tetapi mungkin ada penghormatan yang lebih dalam, yaitu ketika kita membiarkan ayat-ayatnya mengubah cara kita hidup. Ketika Al-Qur’an berbicara tentang kasih sayang, apakah kita menjadi lebih penyayang? Ketika ia berbicara tentang anak yatim, apakah kita menjadi lebih peduli? Ketika ia berbicara tentang orang yang meminta, apakah kita menjadi lebih lembut? Dan ketika ia mengingatkan tentang nikmat, apakah kita menjadi lebih rendah hati?

Sebab boleh jadi seseorang dapat memperlakukan ayat dengan tidak semestinya di hadapan manusia, tetapi kita tidak perlu menjawabnya hanya dengan kemarahan. Kita dapat menjawabnya dengan sesuatu yang jauh lebih panjang umurnya, daripada sebuah kegaduhan: memahami ayat itu, menghayatinya, dan menghidupkan pesannya.

Surah Ad-Duha sendiri memberikan contoh yang sangat indah. Ia berbicara tentang seorang manusia yang berada dalam keadaan yatim, kemudian dilindungi. Ia berbicara tentang seseorang yang membutuhkan petunjuk, kemudian diberi petunjuk. Ia berbicara tentang kekurangan, kemudian kecukupan. Tetapi setelah semua itu, Allah tidak mengatakan, “Maka sekarang engkau boleh berdiri lebih tinggi daripada orang lain.” Justru Allah berkata: jangan menindas anak yatim, jangan menghardik orang yang meminta, dan ceritakanlah nikmat dari Tuhanmu.

Dengan demikian, pengalaman menerima rahmat seharusnya melahirkan kerendahan hati. Mungkin inilah yang membuat Surah Ad-Duha begitu dekat dengan manusia. Hampir setiap orang memiliki bentuk “malam” dalam kehidupannya sendiri. Ada yang sedang menunggu jawaban, ada yang sedang kehilangan seseorang, ada yang sedang berjuang dengan persoalan yang tidak diketahui orang lain, ada yang tampak baik-baik saja tetapi diam-diam sedang bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa hidup terasa begitu berat. Kepada hati-hati seperti itu, Surah Ad-Duha datang bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kelembutan.

Ia tidak mengatakan bahwa malam tidak akan pernah datang. Ia justru mengakui bahwa malam adalah bagian dari perjalanan. Tetapi ia mengajarkan bahwa malam bukan keseluruhan kehidupan. Ada dhuha, ada cahaya, ada sesuatu yang belum kita lihat. Dan ada Tuhan yang tidak meninggalkan hamba-Nya.

Karena itu, ketika kita membaca kembali:

وَالضُّحَىٰ ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ

Mungkin kita akan melihat bahwa pagi dan malam bukan sekadar dua waktu dalam sehari, tetapi juga gambaran tentang kehidupan manusia yang memang tidak selalu berada dalam keadaan yang sama. Ketika membaca:

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Mungkin kita akan belajar untuk tidak tergesa-gesa menganggap kesunyian sebagai tanda bahwa Allah telah pergi. Ketika membaca kisah tentang yatim, petunjuk, dan kecukupan, mungkin kita akan mulai menghitung kembali nikmat yang selama ini kita anggap biasa. Dan ketika sampai pada tiga ayat terakhir, mungkin kita akan memahami, bahwa nikmat yang kita terima tidak dimaksudkan untuk membuat kita semakin tinggi, namun justru semakin mampu merendahkan hati dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain.

Barangkali, itulah cahaya yang sesungguhnya. Bukan hanya cahaya yang membuat kita dapat melihat jalan untuk diri sendiri, tetapi cahaya yang membuat kita mampu melihat orang lain. Bukan hanya cahaya yang membuat hati kita merasa tenang, tetapi cahaya yang membuat tangan kita tergerak untuk membantu. Bukan hanya cahaya yang membuat kita merasa dekat dengan Tuhan, tetapi cahaya yang membuat manusia di sekitar kita merasa aman dari kehadiran kita.

Maka, mungkin Surah Ad-Duha sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana sekaligus dalam: ketika cahaya telah datang kepada kita, janganlah hanya menikmati terangnya; lihatlah siapa yang masih berada dalam gelap. Dan barangkali di sanalah kita juga dapat memahami, bagaimana seharusnya kita merespons peristiwa yang sedang ramai ini. Kita boleh merasa sedih, merasa terluka, dan boleh menyatakan bahwa memperlakukan ayat-ayat Al-Qur’an secara tidak pantas adalah sesuatu yang tidak patut. Namun, jangan sampai kemarahan itu membuat kita lupa kepada pesan ayat yang sedang kita bela.

Jika kita marah karena Al-Qur’an direndahkan, maka mari kita tinggikan Al-Qur’an dalam kehidupan kita. Jika kita merasa ayat-ayat itu telah diperlakukan tanpa penghormatan, mari kita hormati dengan memahaminya. Jika kita merasa sedih melihat orang lain memperlakukannya dengan tidak semestinya, mari kita tunjukkan bagaimana seharusnya seorang manusia memperlakukan firman Tuhannya: dengan ilmu, dengan adab, dengan kerendahan hati, dan dengan kesediaan untuk mulai berubah. Sebab mungkin, bentuk penghormatan yang paling dalam kepada Al-Qur’an bukanlah sekadar mengatakan bahwa kita mencintainya, tetapi membiarkan ayat-ayatnya mengoreksi diri kita sendiri.

Dan di sinilah Surah Ad-Duha mungkin berbicara kepada kita dengan sangat pribadi. Kepada orang yang sedang sunyi, ia berkata: jangan mengira engkau ditinggalkan. Kepada orang yang sedang menunggu, ia berkata: jangan terburu-buru menganggap semuanya telah berakhir. Kepada orang yang sedang merasa kurang, ia mengingatkan: lihat kembali nikmat yang telah diberikan kepadamu. Kepada orang yang mulai merasa tinggi karena apa yang dimilikinya, ia mengingatkan: semua itu bukan semata-mata karena kekuatanmu. Dan kepada orang yang telah menerima cahaya, ia mengingatkan: jangan biarkan cahaya itu berhenti pada dirimu sendiri.

Mungkin karena itu, ada sesuatu yang membuat saya pribadi merasa tersentuh ketika membaca Surah Ad-Duha lebih perlahan. Ia ternyata bukan hanya surah tentang kesedihan, dan bukan pula sekadar surah tentang penghiburan. Ia adalah perjalanan dari kesunyian menuju kesadaran. Kita diajak melihat malam, lalu diingatkan tentang cahaya. Kita diajak mengingat kesulitan, lalu diperlihatkan pertolongan. Kita diajak mengingat kekurangan, lalu diperlihatkan nikmat. Dan setelah semua itu, kita diarahkan untuk melihat manusia lain dengan hati yang lebih lembut.

Mungkin di situlah Surah Ad-Duha menyadarkan kesombongan kita. Sebab manusia sering merasa dirinya kuat ketika sedang memiliki. Padahal mungkin ia kuat karena pernah dikuatkan. Manusia merasa dirinya tahu ketika memiliki ilmu. Padahal mungkin ia tahu karena pernah diajarkan. Manusia merasa dirinya berhasil karena bekerja keras. Padahal di belakang kerja keras itu, ada begitu banyak nikmat yang tidak pernah ia ciptakan sendiri. Semakin kita memahami perjalanan hidup, semakin kita menyadari bahwa tidak banyak yang benar-benar dapat kita klaim sebagai milik kita sendiri.

Maka, mungkin ketika membaca Surah Ad-Duha, yang perlu kita lakukan bukan hanya mencari penghiburan ketika sedang sedih. Kita juga perlu membiarkan surah ini merendahkan hati kita ketika sedang merasa tinggi. Sebab cahaya tidak hanya diperlukan oleh orang yang sedang berada dalam gelap. Cahaya juga diperlukan oleh orang yang sedang merasa dirinya sudah cukup terang. Dan mungkin itulah alasan mengapa Surah Ad-Duha terasa begitu indah. Ia dapat menjadi penghibur bagi hati yang sunyi, tetapi pada saat yang sama menjadi cermin bagi hati yang mulai lupa diri.

Kepada mereka yang sedang berada dalam kesunyian diam-diam, semoga Surah Ad-Duha menjadi teman yang menenangkan dan menyejukkan. Kepada mereka yang sedang kehilangan arah tujuan, semoga ia menjadi pengingat, bahwa petunjuk selalu berada dalam kuasa Allah. Kepada mereka yang sedang merasa kekurangan, semoga ia mengajarkan untuk melihat kembali nikmat yang sering luput dari perhatian. Dan kepada kita semua yang terkadang merasa terlalu tinggi karena ilmu, harta, kedudukan, atau apa pun yang kita miliki, semoga Surah Ad-Duha mengembalikan kita kepada kesadaran paling sederhana: kita semua pernah menjadi seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Maka, tidak ada banyak alasan untuk menjadi sombong. Barangkali yang kita perlukan hanyalah berhenti sejenak, membaca kembali sebelas ayat itu, dan mendengarkannya dengan hati yang sedikit lebih rendah. Sebab mungkin cahaya itu tidak pernah benar-benar pergi. Kitalah yang sedang berada di sisi malamnya. Dan sebagaimana malam tidak selamanya tinggal sebagai malam, kesunyian pun tidak selamanya menjadi kesunyian.

Akan ada dhuha. Akan ada cahaya. Dan ketika cahaya itu datang, semoga kita tidak hanya menjadi orang yang menikmatinya, tetapi juga menjadi manusia yang mampu meneruskannya kepada mereka yang masih berjalan dalam gelap. Karena mungkin pada akhirnya, itulah pesan yang paling lembut dari Surah Ad-Duha: Allah menghibur kita dengan rahmat-Nya, mengingatkan kita dengan nikmat-Nya, lalu mengajarkan kita untuk menjadi rahmat bagi sesama. Dan mungkin, setelah membaca itu semua, kita tidak lagi hanya bertanya mengapa seseorang pernah merendahkan ayat-ayat Allah. Kita justru bertanya kepada diri sendiri dengan suara yang lebih pelan:

“Setelah sekian banyak cahaya yang Allah berikan kepadaku, sudahkah hidupku menjadi cahaya bagi orang lain?”

Cawang, Agustus 2026

Bangiwans Corner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *