Jika kita sedang membaca Rawi Maulid Simṭ al-Durar. Ada sesuatu hal yang menarik hati ini, dari cara Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi menulis pembukaan Simṭ al-Durar. Ia tidak tergesa-gesa mengajak kita kepada sebuah kisah mulia kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Namun ia terlebih dahulu mengajak kita memuji dan memandang kepada Allah; kepada kekuasaan-Nya, kepada kemurahan-Nya, kepada ilmu-Nya, dan kepada hikmah di balik penciptaan. Seolah-olah, sebelum kita mengenal manusia yang paling mulia, kita terlebih dahulu diajak mengenal siapa yang memuliakannya.
Coba kita perhatikan, kalimat pertama yang kita baca dan dengar adalah sebuah pujian kepada Allah:
الحَمْدُ لِلّهِ الْقَوِيِّ سُلْطَانُهْ
“Segala puji bagi Allah, yang kuat kekuasaan-Nya.”
Seolah-olah, Habib Ali sedang mengingatkan kita bahwa, sebelum kita berbicara tentang seorang manusia yang paling mulia, kita harus terlebih dahulu mengarahkan pandangan kepada Dzat yang memberikan kemuliaan itu. Segala sesuatu bermula dari Allah. Kekuasaan berasal dari-Nya, karunia berasal dari-Nya, petunjuk berasal dari-Nya, dan kemuliaan yang akan kita bicarakan tentang Rasulullah ﷺ pun tidak bisa dipisahkan dari kehendak dan kemurahan-Nya.
Mulai dari Allah, Habib Ali kemudian membawa kita melihat kepada alam kehidupan. Kemurahan dan kebaikan-Nya terhampar dalam wujud. Coba kita bayangkan. Kita hidup di tengah begitu banyak pemberian yang kerap kali kita terima tanpa sempat memikirkan dari mana semuanya itu berasal. Kita menerima kehidupan sebelum mampu memintanya. Kita menerima kemampuan untuk melihat sebelum memahami arti penglihatan. Kita menerima akal sebelum mampu bertanya siapa yang memberikan akal itu sendiri.
Mungkin karena itu, pembukaan Simṭ al-Durar terasa seperti sebuah ajakan untuk kita kembali belajar bersyukur. Bukan hanya bersyukur ketika sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita, tetapi menyadari bahwa keberadaan kita sendiri sudah merupakan bagian dari karunia.
Kemudian Habib Ali berkata:
خَلَقَ الْخَلْقَ لِحِكْمَةٍ
“Dia menciptakan makhluk dengan hikmah.”
Jika kita baca, kalimat ini sederhana, tetapi menyimpan ruang perenungan yang sangat luas. Kita hidup dalam dunia yang tidak selalu dapat kita pahami. Ada peristiwa yang mudah kita terima karena kita segera melihat manfaatnya. Tetapi ada pula peristiwa yang membuat kita bertanya, mengapa harus terjadi seperti ini? Mengapa seseorang harus kehilangan? Mengapa sebuah harapan tidak menjadi kenyataan? Dan mengapa jalan yang kita kira akan mudah justru menjadi begitu panjang dan melelahkan?
Habib Ali kemudian memberikan sebuah jawaban yang sekaligus mengajarkan kita untuk rendah hati:
Jika kita sedang membaca Rawi Maulid Simṭ al-Durar. Ada sesuatu hal yang menarik hati ini, dari cara Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi menulis pembukaan Simṭ al-Durar. Ia tidak tergesa-gesa mengajak kita kepada sebuah kisah mulia kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Namun ia terlebih dahulu mengajak kita memuji dan memandang kepada Allah; kepada kekuasaan-Nya, kepada kemurahan-Nya, kepada ilmu-Nya, dan kepada hikmah di balik penciptaan. Seolah-olah, sebelum kita mengenal manusia yang paling mulia, kita terlebih dahulu diajak mengenal siapa yang memuliakannya.
Coba kita perhatikan, kalimat pertama yang kita baca dan dengar adalah sebuah pujian kepada Allah:
وَطَوَى عَلَيْهَا عِلْمَهُ
”Allah menyimpan pengetahuan tentang hikmah itu dalam ilmu-Nya.”
Mungkin di sinilah kita perlu banyak belajar bahwa, tidak semua yang terjadi dalam kehidupan harus segera kita mengerti agar dapat kita yakini memiliki makna. Manusia memiliki pengetahuan, tetapi pengetahuan manusia itu terbatas. Kita hanya bisa melihat sebagian kecil dari perjalanan, sementara Allah mengetahui keseluruhannya.
Apa yang menurut kita tampak sebagai akhir, mungkin sebenarnya hanya sebuah bagian dari perjalanan. Apa yang kita anggap sebagai kehilangan, mungkin menyimpan sesuatu yang belum sanggup kita pahami. Dan sesuatu yang hari ini belum menemukan jawabannya, bukan berarti tidak memiliki hikmah.
Kesadaran semacam ini tidak berarti manusia berhenti berpikir atau berhenti mencari ilmu. Justru sebaliknya. Kita harus tetap mencari, tetap belajar, tetap bertanya, tetapi tentunya dengan kesadaran bahwa pengetahuan kita tidak akan pernah sempurna. Semakin jauh kita berjalan dalam ilmu, semestinya semakin kita menyadari betapa luas sesuatu yang belum kita ketahui.
Dari sinilah pembicaraan Habib Ali bergerak kepada manusia. Manusia tidak dibiarkan berjalan sendirian di tengah keterbatasannya. Allah memberikan karunia dan mengutus para rasul. Dan kemudian kita sampai pada kalimat yang menjadi salah satu inti dari Pasal Pertama ini:
فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ أَشْرَفَ خَلْقِهِ وَأَجَلَّ عَبِيدِهِ رَحْمَةً
“Maka Dia mengutus kepada mereka makhluk-Nya yang paling mulia dan hamba-Nya yang paling agung sebagai rahmat.”
Di sini Nabi Muhammad ﷺ mulai hadir dalam pembicaraan. Tetapi, coba kita perhatikan bagaimana Habib Ali memperkenalkan beliau. Ia tidak hanya mengatakan bahwa Muhammad ﷺ adalah seorang Nabi. Ia menyebut beliau sebagai أَشْرَفَ خَلْقِه makhluk-Nya yang paling mulia, dan أَجَلَّ عَبِيدِه hamba-Nya yang paling agung.
Ada sesuatu yang sangat indah dalam penuturan ini. Ketika Habib Ali mengangkat kemuliaan Rasulullah ﷺ setinggi-tingginya, namun ia tetap menyebut nabi sebagai ‘abd, seorang hamba. Seolah-olah, ada pelajaran penting yang ingin disampaikan: bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada kemampuan untuk keluar dari kehambaan, tetapi justru pada kesempurnaan kehambaannya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mulia, tetapi beliau tetap hamba Allah. Beliau adalah hamba yang dicintai:
هَذَا الْعَبْدِ الْمَحْبُوبِ
“Hamba yang dicintai.”
Maka, semakin kita membaca Pasal Pertama ini, semakin terasa bahwa Habib Ali sedang membangun sebuah paradigma. Kita tidak hanya diajak mengetahui siapa Nabi Muhammad ﷺ, tetapi kita diajak memahami hubungan beliau dengan Allah. Beliau adalah makhluk yang mulia karena Allah memuliakannya, hamba yang dicintai karena Allah mencintainya, dan Rasul yang diutus untuk membawa rahmat kepada manusia.
Kata rahmat di sini menjadi sangat penting. Sebab Rasulullah ﷺ tidak hanya datang sebagai sebuah nama besar dalam sejarah dunia. Beliau hadir membawa petunjuk. Kehadiran beliau mengubah paradigma manusia mengenal Tuhannya, memahami dirinya, memperlakukan sesamanya, dan menjalani kehidupannya.
Karena itu Habib Ali mengatakan bahwa, jejak kemuliaan beliau tersebar:
فَانْتَشَرَتْ آثَارُ شَرَفِهِ فِي عَوَالِمِ الشَّهَادَةِ وَالْغُيُوبِ
“Maka tersebarlah jejak-jejak kemuliaannya di alam nyata dan alam gaib.”
Kata atsar, jejak, sangat terasa penting untuk kita renungkan. Sebab sesuatu yang benar-benar mulia, biasanya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia akan meninggalkan pengaruh yang luas.
Kehadiran Rasulullah ﷺ meninggalkan jejak dalam sejarah dunia, dalam ilmu, dalam akhlak, dalam kehidupan umat, dan dalam cara manusia memahami hubungan antara dirinya dengan Allah. Karena itu, ketika kita membaca tentang kemuliaan beliau, mungkin kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri: jejak seperti apa yang kita tinggalkan dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita?
Pertanyaan ini tentu tidak dimaksudkan untuk membandingkan diri kita dengan Rasulullah ﷺ. Sangat tidak mungkin. Tetapi keteladanan memang selalu mengajak manusia selalu bercermin. Kita melihat kebaikan pada seseorang, lalu perlahan-lahan bertanya: adakah sedikit dari nilai itu yang dapat kita hadirkan dalam kehidupan kita?
Habib Ali kemudian menggambarkan kehadiran Rasulullah ﷺ dengan bahasa yang sangat indah. Kehadiran beliau membuat sisi-sisi wujud menjadi harum semerbak dan menghiasi alam dengan kemuliaan.
Bahasa itu bukan sekadar keindahan puisi maupun sastra. Ada makna yang dapat kita renungkan di dalamnya. Keharuman selalu memiliki sifat menyebar. Ia tidak berhenti pada sumbernya. Demikian pula akhlak. Kebaikan yang benar-benar hidup dalam diri seseorang akan dirasakan oleh orang lain.
Maka, ketika Rasulullah ﷺ disebut sebagai الرَّؤُوفِ الرَّحِيمِ, yang penuh kasih dan penyayang, mungkin kita tidak cukup hanya mengagumi sifat itu. Kita juga dapat bertanya dengan tenang kepada diri sendiri: apakah orang lain merasakan kelembutan dari kehadiran kita? Apakah keluarga kita merasa aman bersama kita? Apakah orang yang sedang kesulitan menemukan sedikit ketenangan ketika berbicara dengan kita? Apakah ilmu yang kita miliki membuat kita semakin lembut, atau justru semakin mudah merendahkan orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak harus dijawab di hadapan orang lain. Barangkali cukup kita bawa pulang ke dalam hati diam-diam. Sebab pada akhirnya, membaca riwayat Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang menambah pengetahuan tentang beliau. Ada sebuah harapan agar pengetahuan itu perlahan mengubah orang yang membacanya.
Kita dapat mengetahui nasab beliau, kelahiran beliau, perjalanan hidup beliau, menghafal shalawat dan membaca Simṭ al-Durar berkali-kali. Semua itu adalah sesuatu yang baik. Tetapi mungkin masih ada satu langkah yang lebih jauh: menjadikan apa yang kita ketahui itu sebagai cermin untuk melihat diri sendiri.
Jika Rasulullah ﷺ adalah rahmat, bagaimana dengan kehadiran kita? Jika beliau adalah hamba yang dicintai Allah, bagaimana kita memahami kehambaan? Jika beliau meninggalkan jejak kemuliaan, jejak apa yang akan tertinggal dari kehidupan kita?
Barangkali, di sinilah Pasal Pertama Simṭ al-Durar mulai berbicara lebih dekat kepada kita. Ia tidak lagi hanya menjadi teks yang berada di dalam kitab. Ia perlahan menjadi pertanyaan yang hadir dalam kehidupan.
Dan mungkin itu pula yang membuat cara Habib Ali membuka Simṭ al-Durar terasa begitu indah penuh makna. Ia tidak tergesa-gesa membawa kita kepada sebuah kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Justru ia terlebih dahulu mengajarkan bagaimana kita harus memasuki kisah itu. Kita diajak memulai dari Allah Sang Pencipta Alam Semesta, menyadari keterbatasan diri, memahami bahwa petunjuk adalah karunia, kemudian mengenal Rasulullah ﷺ sebagai rahmat.
Dengan cara itu, kita tidak sekadar membaca tentang kisah seorang Nabi. Kita sedang belajar memahami, mengapa kehadiran beliau begitu berarti bagi kehidupan manusia.
Maka, ketika kita membaca Pasal Pertama Simṭ al-Durar, mungkin yang sedang kita baca bukan hanya sebuah pengantar tentang kisah Rasulullah ﷺ. Bisa jadi, kita sedang diajak mengingat kembali akan sesuatu yang sering terlupakan: bahwa hidup ini memiliki hikmah, bahwa pengetahuan kita memiliki batas, bahwa petunjuk adalah karunia, dan bahwa kehadiran seorang manusia yang membawa rahmat dapat mengubah cara manusia memandang kehidupan.
Mungkin kita terlalu sering ingin segera memahami segala sesuatu. Kita ingin mengetahui mengapa sesuatu terjadi, ke mana sebuah perjalanan akan membawa kita, dan mengapa sebagian hal datang sementara sebagian yang lain pergi. Namun Pasal Pertama ini seperti mengajak kita untuk berhenti sejenak. Tidak semua hal harus segera kita pahami. Ada sesuatu yang perlu kita jalani dengan sabar, dengan ilmu yang kita miliki, dan dengan keyakinan bahwa ilmu Allah jauh lebih luas daripada apa yang mampu kita lihat.
Dalam ruang keterbatasan itulah petunjuk menjadi begitu berharga. Bukan karena manusia tidak memiliki akal, tetapi karena akal manusia memiliki batas. Bukan karena manusia tidak mampu mencari kebenaran, namun karena perjalanan menuju kebenaran membutuhkan cahaya yang lebih luas daripada sekadar kemampuan melihat. Dan di situlah Rasulullah ﷺ hadir sebagai rahmat.
Maka, mungkin setelah membaca Pasal Pertama ini, pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang telah kita ketahui tentang Rasulullah ﷺ. Ada pertanyaan yang lebih hening, lebih pribadi, dan mungkin lebih sulit untuk dijawab: seberapa jauh pengetahuan tentang Rasulullah ﷺ telah membuat kita berubah?
Sebab sebuah riwayat akan benar-benar hidup, ketika ia tidak lagi hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi mulai menemukan bentuknya dalam kehidupan. Kita membaca agar mengenal, mengenal agar mencintai, mencintai agar mengikuti, dan mengikuti agar kehadiran kita sendiri dapat membawa kebaikan bagi kehidupan di sekitar kita.
Jika Rasulullah ﷺ diperkenalkan kepada kita sebagai rahmat, mungkin ukuran sederhana dari keberhasilan kita membaca riwayat beliau bukanlah seberapa indah kita mampu menceritakannya, tetapi apakah setelah mengenalnya kita menjadi sedikit lebih lembut, sedikit lebih sabar, sedikit lebih jujur, sedikit lebih rendah hati, dan sedikit lebih bermanfaat bagi orang lain.
Dari Allah kita belajar tentang sumber segala sesuatu. Dari penciptaan kita belajar tentang hikmah. Dari keterbatasan ilmu kita belajar tentang kerendahan hati. Dari pengutusan Rasul kita belajar tentang petunjuk. Dan dari Nabi Muhammad ﷺ kita belajar bagaimana rahmat dapat hadir melalui kehidupan seorang manusia.
Maka dari hikmah menuju rahmat, perjalanan Simṭ al-Durar benar-benar dimulai. Dan mungkin perjalanan itu bukan hanya perjalanan untuk mengenal Rasulullah ﷺ lebih jauh, tetapi juga perjalanan untuk mengenal kembali diri kita sendiri: manusia yang diciptakan dengan hikmah, hidup dalam keterbatasan pengetahuan, membutuhkan petunjuk, dan pada akhirnya berharap agar kehidupannya tidak sekadar menjadi bagian dari dunia, tetapi juga meninggalkan kebaikan di dalamnya.
Barangkali, itulah yang hendak dibisikkan oleh Habib Ali kepada kita: sebelum kita bertanya seberapa banyak yang telah kita ketahui tentang Rasulullah ﷺ, ada pertanyaan yang lebih sunyi untuk kita renungkan, seberapa jauh pengetahuan itu telah membuat kita berubah.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Cawang, Rabiul Awwal 1448 H
Bangiwans Corner

